Biru Tetaplah Damai
03 February 2012
Menangis itu membersihkan mata, juga hati
Aih... perempuan ternyata punya keran air mata yang kenopnya ada di hati, di sebelah jantung!
18 December 2011
Today is mine
Yup, hari ini adalah milik saya!
Karena masa lalu milik kenangan dan masa depan milik ketidakpastian.
Karena itu saya akan berusaha maksimal untuk hari ini.
Tak mudah, tapi tak ada yang tak mungkin!
Just catch the day!
Karena masa lalu milik kenangan dan masa depan milik ketidakpastian.
Karena itu saya akan berusaha maksimal untuk hari ini.
Tak mudah, tapi tak ada yang tak mungkin!
Just catch the day!
09 August 2011
27
*(semacam kado memperingati hari lahir untuk diri sendiri)
Alhamdulillah, di antara kerumitan hari, padatnya rutinitas, titik ke 27 ini saya lewati dengan penuh syukur. Segala puji bagi MU wahai Sang Pemilik Hidup, atas hidup ribuan hari, atas rotasi matahari yang ke 27 kali, atas segala!
27... Ah, saya mencintai angka ini. Karena itu, dulu, angka ini saya jadikan patokan untuk beberapa pencapaian diri, yang ketika saya evaluasi lagi, telah saya dapatkan beberapa di antaranya dengan hasi gemilang, namun ada juga yang perlu direvisi pada beberapa bagian, dan ada juga yang bahkan ketika saya menulis postingan ini sebagai ritual hari jadi, beberapa keinginan yang dulunya saya yakin akan saya penuhi di usia 27, ternyata masih dalam impian dan masuk lagi dalam list pencapaian saya berikutnya.
Fitrah manusia, mau segala! Saya juga! Namun di antara riak hari, saya pun semakin sadar, bahwa hidup bukanlah tentang hasil akhir, bukanlah tentang angka dan jumlah. Maka, sejak itu saya percaya pada proses, meyakini bahwa segala yang saya hadapi, yang saya dapatkan, yang saya lewati, pasti ada makna dan hikmah, karena hidup dan kehidupan takkan mengenal kata percuma. Takkan pernah ada yang sia-sia.
Maka, di antara banyaknya ucapan selamat dari para kenalan, rekan sejawat, teman karib, para sahabat, keluarga tercinta, saya tersungkur dalam bahagia dan haru tiada tara. Alhamdulillah, saya mencintai orang-orang yang ternyata juga mencintai saya. Maka, takkan pernah ada yang sia-sia bukan? Semoga segala doa diijabah, semoga doa yang sama, segala kebaikan juga tercurah untuk kita semua, jadi penerang dalam kelamnya hidup, jadi teropong dalam ketidakjelasan esok, jadi alunan nada dalam cerianya hari, jadi warna-warni dalam indahnya nikmat. Alhamdulillah...
04 August 2011
Menjadi Penonton
(Sebuah catatan ketika membaca komentar orang-orang di pagegroup facebook!)
Menjadi penonton memang lebih mudah. Tinggal melihat, menyaksikan, menonton lalu jika ada yg akan dikomentari maka berkomentar lah.
Mudah sekali, tanpa perlu berjibaku seperti pemain, tanpa perlu berkeringat, seperti pelaku, tanpa perlu menghadang resiko apapun seperti si subjek.
Menjadi penonton memang lebih mudah, hanya tinggal memaki dari sebuah warung, hanya tinggal 'mengatai' si pemain goblok, hanya tinggal mengeluarkan statement kalau pelaku 'bermain-main', hanya tinggal sinis di facebook, hanya tinggal mengomentari, bubuhi dengan sedikit pengetahuan kalau perlu kutip pasal dan ayat undang-undang, maka terlihatlah betapa profesionalnya kita, terlihat betapa kita sangat 'menguasai' padahal, kita adalah penonton, hanyalah penonton!
Setelah ini, saya akan belajar menjadi penonoton yang bijak, tidak akan 'memaki' seandainya wilson Jr golnya tidak masuk, tidak akan mengatai Okto Maniani jika larinya kurang kencang, tidak akan berkomentar lagi jika tim Indonesia belum punya the next yayuk Basuki dan Susi Susanti. Karena menjadi penonton, memang lebih mudah!
*Ini bukan soal bola! karena Indonesia lolos prakualifikasi world cup. ini juga bukan soal olah raga, saya masihlah penonton yang baik! ini cuma curahan hati! It's sooo personal!
Menjadi penonton memang lebih mudah. Tinggal melihat, menyaksikan, menonton lalu jika ada yg akan dikomentari maka berkomentar lah.
Mudah sekali, tanpa perlu berjibaku seperti pemain, tanpa perlu berkeringat, seperti pelaku, tanpa perlu menghadang resiko apapun seperti si subjek.
Menjadi penonton memang lebih mudah, hanya tinggal memaki dari sebuah warung, hanya tinggal 'mengatai' si pemain goblok, hanya tinggal mengeluarkan statement kalau pelaku 'bermain-main', hanya tinggal sinis di facebook, hanya tinggal mengomentari, bubuhi dengan sedikit pengetahuan kalau perlu kutip pasal dan ayat undang-undang, maka terlihatlah betapa profesionalnya kita, terlihat betapa kita sangat 'menguasai' padahal, kita adalah penonton, hanyalah penonton!
Setelah ini, saya akan belajar menjadi penonoton yang bijak, tidak akan 'memaki' seandainya wilson Jr golnya tidak masuk, tidak akan mengatai Okto Maniani jika larinya kurang kencang, tidak akan berkomentar lagi jika tim Indonesia belum punya the next yayuk Basuki dan Susi Susanti. Karena menjadi penonton, memang lebih mudah!
*Ini bukan soal bola! karena Indonesia lolos prakualifikasi world cup. ini juga bukan soal olah raga, saya masihlah penonton yang baik! ini cuma curahan hati! It's sooo personal!
20 July 2011
Menulis Lagi
Postingan ini saya buat dalam kamar hotel, dalam sebuah urusan kantor ke ibu kota, di antara rasa capek dan keharusan membuat laporan, keinginan untuk menulis tiba-tiba muncul.
Saya tiba-tiba ingin segera menulis, sebelum wajah lelah saya berubah menjadi wajah jenuh, seperti wajah-wajah yang saya temui di gedung-gedung tinggi kota ini. Saya tiba-tiba ingin menulis sebelum waktu benar-benar mahal. Saya separuh yakin, para pekerja yang hidup di sini, punya waktu berdialog dengan diri sendiri, yang bahkan berdialog dengan keluarganya saja adalah hal yang butuh masa khusus. Sedemikian rupakah hidup hari ini?
Dulu, saya selalu menulis. Dari kelas 6 SD saya punya diari, yang saya tulis tiap hari, yang jumlahnya sudah puluhan sampai sekarang tetapi frekuensi ditulisnya semakin berkurang. Dulu saya menulis tak hanya ketika bahagia atau sedih, apapun saya tulis yang bahkan tanpa topik yang jelas. Dulu, bahkan sebelum ada internet, sebelum saya punya blog, sebelum punya akun friendster, facebook, dan twitter saya sudah terbiasa memposting sesuatu di buku kecil saya, kadang dilengkapi foto, potongan kertas, tiket bus, uang kertas, daun, tissu, apapun. begitu pertama kali bikin blog di tahun 2006, saya yakin, blog saya akan terposting setiap hari, sama seperti ritual saya mengisi diari dan buku kecil. Ternyata semangat itu hanya di awal. Semakin ke sini, saya semakin tidak punya motivasi, keinginan, waktu, kesempatan bahkan topik yang akan ditulis, walaupun sesekali saya masih suka menulis di buku kecil.
Ketika menulis postingan ini, di sebelah saya tergeletak novel terbaru karya penulis best seller. Di sampul depannya, ada tulisan dan tandatangan beliau lengkap dengan nama saya sebagai alamat tujuan tandatangan itu. Buku itu (dan dua buku lainnya) adalah hadiah seorang sahabat, yang selalu memotivasi saya untuk menulis. Karena itu, begitu saya diberi hadiah buku, saya janji akan menulis lagi. Maka tulisan inilah 'pembayar utang', kendati saya yakin belum akan 'lunas'. Sang Sahabat yakin saya berbakat, karena itu dia suka mampir di blog saya yang sudah bersarang laba-laba di dalamnya saking tak terjamah, dan sekarang mempublishnya dalam sebuah media online dimana ia bekerja sebagai editor. saya juga punya beberapa teman yang selalu menanyakan kapan saya mau menulis lagi, teman yang minta selalu ditag jika saya memposting sesuatu, atau orang-orang yang mengaku terinspirasi dari tulisan-tulisan saya.
Dulu, saya membuatkan puisi untuk teman yang jatuh cinta. Dulu, saya menceritakan kisah seorang teman lewat jalinan fiksi saat dia tak mampu berbagi kisah. Dulu, saya mengkonkritkan curahan hati dengan postingan-postingan aneka judul. Dulu, saya mampu berpikir dengan sudut pandang berbeda dan membaginya dengan para sejawat. Dulu, saya seorang penulis meskipun karya saya segitu-gitu saja!
Ah... saya ingin kembali ke masa dulu, dengan dimensi masa sekarang. Semesta, saya ingin menulis lagi!
*pic from google
Subscribe to:
Posts (Atom)

