beda sisi, beda warnanya
CaNTiK
Hari ini dpat sms. Pagi buta pas sahur. Gak tau dari siapa, tapi isinya membuatku tercenung, dan masih merenunginya hingga siang.
Isi smsnya :Wanita cantik melukiskan kekuatan lewat masalahnya,
tersenyum saat tertekan,
tertawa di saat hatinya menangis,
tawakal di saat terhina,
mempesona karena mengampuni.
Wanita cantik mengasihi tanpa pamrih,
dan bertambah kuat dalam doa dan pengharapan.
Pesan ini dikirim khusus untuk setiap wanita tercantik kepunyaan ALLAH SWT,
Amin...
Mungkin ini hanya keisengan seseorang (pengirimnya sedang ditelusuri). Mungkin ini hanya satu dari sekian sms-send-to-many. Mungkin orang itu mengirim ke semua perempuan yang dikenalnya. Apapun, saya tetap 'ngaruh' dengan sms yang satu itu.
Untuk anda yg mengirimkannya, terima kasih. Saya jadi punya satu perspektif lagi tentang perempuan dan kekuatannya menghadapi kehidupan. Inspirasi ini akan saya pertahankan!
Pain
Luka di hati mungkin seperti bekas cincin di jari
Terlihat jelas membekas di awal,
tapi akan semakin mengabur ketika ia telah terbiasa
berdebu dan akrab dengan sinar mentari
Saya sakit, tapi tidak sekarat!
eh, slamat puasa
tak ada ringtone hari ini*
tak ada ringtone hari ini.
tak jelas apa ini hukuman buat saya, karena ketika dulu saya ingin menghukum, saya tidak akan menghubungi seharian penuh.
jika ini hukuman, salah saya apa?
karena saya tidak tahu, saya mulai berasumsi.
apakah ini akan mengulang sejarah, bukankah sebelum peristiwa besar dulu kita juga memulainya dengan tak ada ringtone?
atau ini bentuk lain dari resolusi empat minggu yang lalu?
entah, saya bingung, tak tahu lagi mau curhat sama siapa, lalu saya memilih menulis di sini, tempat yang tidak akan pernah kamu singgahi.
*maaf, saya tak ingat, kalimat ini saya kutip dari mana ya?
TaK HaNYa HiTaM DaN PuTiH
Qulil Haqqa walau kaana muron
Sampaikanlah yang benar itu sekalipun pahit!
Entahlah, apa ini sebuah pencapaian lain dalam karir jurnalistik saya yang baru seumur jagung, seuprit ujung kuku.
Semakin hari dunia semakin "tak hanya hitam dan putih".
Foto ini adalah foto yang diambil ketika saya ingin mengabadikan situasi abu-abu yang entah.
Banyak orang yang menghalangi, lengan saya dicekal, seorang bundo kanduang malah menasehati saya untuk tidak memecahbelah umat.Beberapa orang menghalangi saya mengambil gambar, padahal inilah fakta sebenarnya, apa yang terlihat, apa yang didengar dan apa yang terrangkum oleh lensa saya.
Yang lebih parah, bahkan ada rekan wartawan yang mengatakan bahwa saya hanya anak kecil yang tidak tau apa yang sedang terjadi. Padahal saya hanya ingin memberi tahu publik, inilah pemimpin kita, yang anti kritik, yang arogan,yang menurut saya sangat kekanakan, berdebat di luar forum, tidak ingin diceramahi.
Saya kecewa, dengan pemimpin di kota ini. Saya kecewa dengan mereka yang mengaku peduli, yg dulu lantang, langsung "mengkeret" ketika disembur dengan ledakan emosional. Mereka malah menenangkan dan mengambil hati sang pemimpin kembali, yang semakin jumawa, berkoar tentang kebaikan yang sudah dia lakukan.
Tetapi, saya lebih kecewa lagi, ketika rekan-rekan wartawan menodong saya, mengatakan bahwa saya akan memojokkan diri sendiri pada keadaan sulit, bahwa tindakan saya akan membahayakan perusahaan media saya, bahwa saya tidak tau apa-apa.
Ketika media bungkam, siapa lagi yang akan bersuara?
Malam ketika berita itu diturunkan, saya diperintahkan atasan untuk langsung pulang ke rumah dan mematikan handphone hingga besok pagi. Satu sms ancaman saya terima keesokan paginya.
Saya hanya merasa bahwa idealisme adalah hal terakhir yang harus dipertahankan di dunia abu-abu ini. Idealisme saya mengajak saya tak takluk selama saya berada di jalan yang benar meski nyali saya sempat mengerucut.

